Lambang Penjaga Batas Penjaga BatasWilayah Perbatasan Indonesia
Halaman ini diterjemahkan otomatis.
Laporan Topografi · Perbatasan Kalimantan Utara

Membangun jalan pulang untuk kampung yang tertinggal ke jantung Borneo Kalimantan Utara

Di atas tanah Benuanta yang megah, mengalir darah dan doa para leluhur yang telah menjaga alam ini dengan ketulusan jiwa. Hari ini, di perbatasan negeri yang berwibawa, kami berdiri untuk meneruskan amanah suci tersebut.

Dengan jiwa yang merdeka dan mandiri, tanpa terikat sekat golongan atau kepentingan pihak mana pun, kami mendedikasikan karya nyata ini murni untuk rakyat Kaltara. Kami bangun sekolah-sekolah sebagai pelita peradaban, kami bentang akses jalan pembuka isolasi, kami dirikan rumah sakit sebagai benteng kemanusiaan, dan kami ulurkan bantuan nyata tanpa pamrih.

Biarlah setiap keringat yang menetes mengalir dalam independensi yang utuh. Menjadikan setiap pembangunan sebagai kerja yang berkah, amanah, dan berdaulat di atas kaki sendiri.

7
Titik pembangunan
447
Desa terjangkau
457
RS daerah dibangun
100%
Dana ke lapangan

Sedang Berjalan

Tujuh inisiatif di garis depan

Dari ruang kelas baru sampai jalur distribusi sungai — ini titik-titik yang sedang dikerjakan tim di lapangan, didanai dari dukungan yang masuk lewat halaman ini.

Memuat inisiatif...

Kontur & Relief Medan

Peta Topografi Wilayah Perbatasan

Visualisasi kontur ketinggian, punggung bukit, dan relief terjal di sepanjang kawasan perbatasan Kalimantan Utara.

Kontur Tinggi Garis Batas RI–Malaysia 🔴 Titik Proyek Pembangunan

Dokumentasi Nyata

Fakta Lapangan

Menampilkan foto dan video tempat kejadian.

Memeriksa arsip media di server...

Mengenal Penduduk Perbatasan

Suku Murut

Salah satu rumpun Dayak yang mendiami kawasan perbukitan perbatasan Kalimantan Utara, Sabah, Sarawak, dan Brunei.

Sebaran & Populasi

Suku Murut tersebar lintas negara — di Sabah, Sarawak, Brunei, dan Kalimantan Utara. Di sisi Malaysia saja, populasinya tercatat sekitar 112.900 jiwa pada tahun 2020.

Asal Nama

Nama "Murut" diyakini berasal dari kata dalam bahasa Bajau, belud, yang berarti "pegunungan" — merujuk pada masyarakat yang tinggal di kawasan perbukitan.

Bahasa

Tergantung wilayah tempat tinggal, masyarakat Murut memakai bahasa Murutik, Melayu Sabah, Melayu Sarawak, Melayu Standar, Melayu Brunei, Bahasa Indonesia, atau Inggris.

Agama

Mayoritas kini memeluk Kristen, diikuti Islam, dengan sebagian kecil masih menganut kepercayaan leluhur Kaharingan.

Rumpun & Kelompok Bahasa

Rumpun Murut terbagi jadi tiga kelompok bahasa besar: Murut (Okolod, Keningau, Tagal, Paluan, Selungai, Timugon, Agabag/Tinggalan), Utara (Bookan), dan Tidung (Suku Tidung, Kalabakan, Tagal/Sembakung, Serudung, Burusu).

Dataran Rendah & Perbukitan

Secara sosial, orang Murut juga dibedakan jadi dua golongan besar: Murut dataran rendah (mis. Keningau, Tenom, lembah Padas bawah) dan Murut perbukitan (mis. Peluan, Dali, Rundum, Tagal, Sapulot, Lun Dayoh).

Kepercayaan Tradisional

Kepercayaan leluhur Murut tidak mengenal dewa tunggal, tapi meyakini adanya alam surga dan roh-roh penunggu tempat tertentu. Bukit-bukit tinggi dianggap sakral, dipercaya sebagai tempat bersemayamnya arwah leluhur.

Jimat & Pertanda Alam

Benang yang dikalungkan di leher atau pergelangan tangan dipakai sebagai penangkal roh jahat. Kemunculan burung tertentu, pertemuan dengan hewan di jalan, hingga suara rusa dimaknai sebagai pertanda baik atau buruk.

Ramalan & Tafsir Mimpi

Dalam ritual penyembelihan babi, bentuk hatinya dipakai sebagai media ramalan. Mimpi juga ditafsirkan sebagai pertanda — bertemu buaya atau terjatuh dianggap sial, sementara mengejar dan menangkap gadis cantik dipercaya sebagai pertanda baik.

Dirangkum dari Wikipedia — Rumpun Murut.

Email